Peneliti Gunung Api : Kota Tidore Miliki Kaldera yang Mirip dengan di Lombok

Peneliti gunung api asal Paris 1 Panthéon-Sorbonne University, Prancis Prof.  Dr. Franck  Lavigne mengatakan Kota Tidore memiliki dua gunung kembar yakni gunung Kie Matubu dan gunung Telaga dan salah satunya memiliki kaldera yang mirip dengan kaldera yang ada di pulau Lombok. Adanya kaldera ini menunjukan bukti bahwa pernah terjadi letusan besar. Kaldera sendiri merupakan kawah gunung vulkanik yang terbentuk dari letusan besar (eksplosif) dari sebuah gunung berapi.

“Ada kemiripan dengan kaldera yang ada di Lombok tetapi ukurannya lebih kecil hanya sejauh 2 Km, sementara kaldera yang ada di Lombok jauhnya 6 Km” terang Prof. Franck ketika menjadi pembicara pada kuliah tamu dengan tema “Mengenal Dampak Letusan Besar Gunung Api” yang laksanakan oleh Prodi Fisika dan Prodi Geografi, Senin (11/2).

Namun demikian, dirinya belum dapat memastikan kapan terjadinya letusan besar hingga terbentuknya kaldera di Tidore.

Untuk membuktikannya, Prof. Franck  memperlihatkan topografi kaldera di Tidore menggunakan google maps dalam bentuk relief. Selain itu, ia bersama tim juga melakukan riset untuk meneliti batuan piroklastik (PDC) dibeberapa tempat salah satunya  endapan yang terdapat di belakang PLTU Tidore. Selain di Tidore, tim tersebut juga mengambil beberapa sampel yang terdapat di Pulau Maitara dan kelurahan Kalumata, Kota Ternate.

“Kalau  endapan yang ada di belakang PLTU Tidore tebalnya 8 meter sedangkan di Lombok endapannya mencapai 50 meter” sebut Prof. Franck yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Menurutnya, hasilnya uji sampel baru dapat diketahui dalam 1-2 minggu kedepan. Jika hasil dari beberapa lokasi tersebut sama maka sudah bisa dipastikan itu merupakan hasil letusan gunung yang sama karena menurutnya letusan yang besar jarang terjadi, sementara bentuk endapanya harus diketahui melalui analisa geokemistri.

Sebelumnya, Dekan FKIP Dr. A.R. Tolangara, M.Si ketika membuka kuliah tamu tersebut merasa bangga atas kedatangan peneliti gunung api asal Prancis ini. Menurut dekan, kedatangan Prof. Franck ke Ternate dalam rangka penelitian namun diundang pihak fakultas untuk menjadi pembicara pada kuliah tamu.

“Maunya kami itu setiap peneliti yang datang kesini, kita harus “curi” ilmunya untuk diberikan kepada mahasiswa, karena niat kami adalah FKIP harus maju. Maju ilmunya, maju pengetahuanya ” ujar dekan.

Dekan menambahkan, saat ini FKIP memiliki laboratorium lingkungan dengan sejumlah alat-alat terbaru, namun untuk mengelolahnya kurang didukung oleh SDM yang mumpuni. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan kerjasama denga UGM-Yokyakarta agar dapat mengirimkan tenaga laboran untuk diberikan pelatihan oleh UGM.

Dalam kesempatan tersebut, dekan juga memberikan plakat kepada Prof. Franck serta oleh-oleh dari Prodi Fisika dan Prodi Geografi . (chn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *