Tonjolkan Logo Unkhair, FKIP Lakukan Penanaman Cengkeh dan Pala

Guna menonjolkan tanaman Pala dan cengkeh sebagai tanaman asli Maluku Utara yang terdapat pada logo Unkhair, maka pimpinan fakultas bersama seluruh pegawai baik ASN maupun tenaga kontrak serta para Koordinator Prodi melakukan penanaman 45 pohon cengkeh dan pala di seputaran areal fakultas KIP kampus I akehuda, Jumat (26/4).

Cengkeh dan pala merupakan komoditas yang paling diburu pada abad ke 16. Perburuan tersebut mendorong pelayaran dunia sekaligus penjajahan bangsa eropa ditanah Moloku Kie raha.

Dekan FKIP Dr. A.R Tolangara, M.Si yang diitemui usai melakukan kegiatan penanaman cengkeh dan pala menjelaskan kegiatan ini dimaksudkan untuk lebih menonjolkan cengkeh dan pala yang terdapat di logo Unkhair kepada seluruh masyarakat kampus. Selain itu masyarakat dari daerah luar Maluku Utara yang mengunjungi Ternate dan ingin melihat cengkeh dan pala, maka mereka dapat melihatnya langsung kedua tanaman tersebu di FKIP Unkhair.

Menurut dekan, nama Unkhair diambil dari nama besar Sultan Khairun, dimana dalam perjuangannya Sultan Khairun dibunuh oleh bangsa Portugis (Kini : Protugal) dibenteng Kastela Ternate dalam rangka mempertahankan rempah-rempah Maluku Utara yakni tanaman cengkeh dan pala.

“Saya berharap cengkeh dan pala yang kita tanam ini dapat tumbuh dengan baik agar dapat memberi warna tersendiri sebagai ciri khas Unkhair, sehingga ketika ada tamu yang berkunjung ke  Ternate dan ingin melihat tanaman tersebut dapat langsung melihatnya di kampus ini, jadi tidak perlu jauh-jauh lagi ke luar kota” kata dekan.

Hal Senada juga diungkapkan salah satu dosen PKn Dr. Syahril Muhammad, M.Hum. Menurutnya cengkeh dan pala merupakan sumber daya alam masa lalu yang laku dicari oleh bangsa-bangsa eropa, selain itu kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari pembelajaran sejarah.

“Ketika kita memberikan contoh tentang rempah-rampah seperti cengkeh dan pala, tidak perlu lagi kita pergi ke cengkeh Afo  (cengkeh tertua di dunia) tapi cukup datang saja ke kampus I Akehuda” jelas Syahril yang juga tokoh sejarawan Maluku Utara.

Dirinya menambahkan, setiap kali melihat kedua tanaman  ini maka memori kita akan masa lalu terbangkit kembali akan perjuangan para pejuang-pejuang bangsa ini dalam mempertahankan tanah airnya, sehingga kita sebagai penerus bangsa perlu melestarikanan dengan jalan menghidupkan serta menojolkan adat dan budaya Maluku Utara, khususnya Kota Ternate. (chn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *